[Artikel] Tangan Tak Terlihat

“..Terdapat tangan-tangan tak terlihat yang mengendalikan dunia..”-Adam Smith, The Wealth of Nation (1776)

Uang, siapa yang tidak butuh uang? Tidak ada. Semua orang butuh uang. Apalagi di era globalisasi serta modernisasi yang semakin hari semakin meradang.Uang seperti jadi Tuhan, ia menjelma jadi apa saja. Makanan, minuman, pendidikan, politik, hukum, bahkan toilet umum. Uang seolah menjadi acuan dan manusia rela melakukan apapun demi mendapatkannya.Dalam sekelumit perebutan tentang uang, tanpa kita sadari, ada mereka yang menyaksikan , dan memanfaatkan uang dengan cerdas. Para kapitalis.

Kapitalisme tidak memiliki suatu definisi universal yang dapat diterima secara luas. Namun secara umum merujuk pada teori yang saling berkembang dan bersaing pada abad ke-19 dalam konteks ‘Revolusi Industri’, pada abad ke-20 dalam konteks ‘perang dingin’ yang berkeinginan untuk membenarkan kepemilikan modal dimana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai badan tertentu, untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dan medianya adalah uang.

Kapitalisme sebenarnya merupakan bentuk penjajahan yang sudah lama ada. Yang kuat menekan yang lemah. Seiring berkembangnya jaman, kapitalisme dikemas secara epik oleh para kapitalis. Bahkan kita pun tidak sadar bahwa dalam setiap sendi kehidupan kita, sudah merasuk pada perilaku, kebiasaan, dan moral.

Lagi-lagi uang kembali dikambing hitamkan. Karena hanya dengan uang manusia kembali ke zaman purba. Rela melakukan apapun demi memilikinya. Berusaha menjadi yang terbaik dengan saling sikut. Halal dan haram pun melebur menjadi saru. Para kapitalis, hanya duduk manis diatas singgasana mereka. Dan kita pun terlambat untuk menyadari, bahwa kapitalisme adalah ‘tangan yang tak terlihat’.

Andai uang bisa bicara, mungkin dalam kebimbangannya ia akan berkata, “Aku bukan iblis. Tapi sering orang melakukan perbuatan iblis demi aku, si uang. Dan ingat, aku tak ada di surga. Jadi jangan mohon bantuanku..” (Faza Rahim/SM)