[artikel] Surat Untuk Gie

Oleh : Faza Rahim

Hai Gie, sang aktivis yang namanya harum dalam sejarah. Bagaimana kabarmu di sana? Begitu banyak yang ingin kuceritakan padamu tentang mahasiswa di zamanku. Sebuah era yang begitu praktis, penuh keterbukaan, canggih, dan katanya dipenuhi orang cerdas..

Aku sempat membaca cerita-ceritamu tentang bagaimana kawan-kawan mahasiswa begitu bergairah dalam menggerakan dinamika di lingkungan kampus, ataupun sekeliling mereka. Di detik pertama aku membacanya, rasa tertegun, dan takjub menjadi satu. Lalu detik selanjutnya, aku merasa iri. Mengapa tidak ada ‘Gie’ selanjutnya di generasiku?

Aku tahu di sana kamu pasti tersenyum nyinyir, sebab, pertanyaanku adalah pertanyaan yang jawabannya sangat tidak mungkin. Mempertanyakan keberadaanmu di tahun 2015 ialah sebuah kemustahilan. Maafkan aku Gie, jika ini terlihat konyol.

Untuk Gie yang baik, banyak hal yang membuatku kecewa akhir-akhir ini. Tahu karena apa Gie? Karena adik-adik baruku semakin jauh dari kata ‘mahasiswa’ walaupun secara status mereka memang sudah lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi. Aku akui Gie, mereka keren dengan teknologi dan pergaulan yang tak terbatas. Mereka keren dengan pemikiran yang berani juga penampilan yang serba masa kini. Hanya saja semua itu berbanding terbalik dengan etika mereka Gie. Mereka beringas tapi tak bertanggung jawab, kritis namun tak berdasar. mudah terbawa arus, juga tak berpendirian. Aku tahu Gie, tidak ada indikator mahasiswa yang ideal itu seperti apa. Sebab setiap kepala punya refleksinya sendiri. Aku tahu itu Gie. Namun, setiap orang pasti punya hasil yang ingin didapat, dirasa dan dilihat bukan?

Sebagai seorang ‘Kakak’ ada harapan yang tumbuh saat melihat adik barunya. Sebagai seorang ‘Kakak’, aku ingin adik-adikku ini bisa lebih hebat, lebih maju, lebih perduli, serta lebih berani tentunya dalam hal positif, Gie. Bukan semakin bobrok dan akhirnya mudah dipermainkan zaman. Bukan yang cuma berani ‘ngutruk’ tapi diam saat diajak diskusi. Bukan yang hebat di dunia maya tapi mendadak amnesia di dunia nyata. Bukan yang ‘merintih saat ditekan, dan menindas saat berkuasa’. Kupinjam frasa hebatmu ini boleh kan Gie?

Seandainya aku punya mesin waktu dan memilih waktu mana yang aku mau, terus terang aku ingin ada di zamanmu Gie. Terserah orang mau bilang kalau aku terlalu naif untuk menerima segala kenikmatan yang telah kamu dan rekan-rekanmu perjuangkan. Toh, ternyata kita terlena oleh kenikmatan berlabel kata ‘merdeka 45’, dan nyaris lupa bahwa mempertahankan itu lebih sulit daripada mendapatkannya.

Namun aku sadar Gie, bahwa hari ini adalah hari ini. Dan esok tetap jadi misteri. Kita tidak bisa mengulang masa lalu walaupun merengek dan nangis darah. sebagai seorang mahasiswa, aku masih bisa berusaha memperbaiki Gie. Walaupun ini menjadi tamparan besar bagi aku, dan mungkin mereka yang membaca suratku padamu.

Ah Gie! Sungguh, aku gregetan. Tidak bisa diam terus. Doakan aku ya Gie..
Benar katamu bahwa “mendiamkan kesalahan, adalah sebuah kejahatan”.

Maka izinkan aku berdemonstrasi dengan caraku sendiri.

Salam sayang,

Faza Rahim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *