[Artikel] Masa Orientasi, Hapuskan atau Pertahankan?

Beberapa hari ini para orang tua tetangga saya mendadak sibuk kesana-kemari mencari jati diri, maksudnya mencari segala kebutuhan untuk persiapan ospek anaknya. Apapun cara dilakukan agar list yang disyaratkan oleh kakak-kakak senior terpenuhi. Hukumnya wajib membawa syarat yang diperintahkan, tugas dengan istilah aneh – nasi Michael Jackson, monyet-monyet gila, susu kebangsaan, pulpen cepat, dan lainnya membuat orang tua siswa kebingungan bahkan lebih bingung dari ngisi Teka Teki Silang (TTS) yang ada gambar wanita seksinya.

Sudah menjadi tradisi dimana setiap pembukaan tahun ajaran, para siswa baru yang melanjutkan jenjang pendidikannya akan dihadapkan dengan masa orientasi. Memang, hal tersebut menjadi momok yang ditunggu bahkan menakutkan bagi sebagian calon peserta. Masa Orientasi Siswa (MOS), juga ada yang menyebut Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) bagi siswa SD, SMP, dan SMA dilaksanakan sejak Senin, 27 Juli 2015. Perguruan tinggi pun melakukannya, walaupun tidak bernama MOS atau ospek, namun tujuannya sama untuk memperkenalkan lingkungkan baru. Tapi apakah masih perlu kegiatan ospek ini diadakan?

Sempat disinggung di media cetak maupun elektronik mengenai pelaksanaan ospek atau MOS ini, beberapa pihak terkait pun ikut mengomentari. Bahkan, sehari sebelum pelaksanaannya Hashtag #hapuskanOSPEKsampah menjadi trending topik di Twitter, Minggu siang, 26 Juli 2015. Dilansir dari Tempo.com, kebanyakan para netizen ini berpendapat bahwa MOS yang dilaksanakan sudah keluar dari maksudnya sebagai ajang orientasi dan perkenalan siswa baru, malah jadi kesempatan buat balas dendam seniornya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan juga mengatakan seharusnya Masa Orientasi Siswa (MOS) untuk mengenalkan aktivitas sekolah pada siswa baru, bukan ajang perpeloncoan. (dikutip dari antaranews.com).

Aksi mereka pun tidak salah dan juga sebaiknya tidak dibenarkan. Mengingat tahun-tahun sebelumnya banyak para siswa baru ini menjadi objek perpeloncoan senior, kekerasan yang berujung kematian juga sempat terjadi. Namun, sebaiknya MOS ini jangan dihapuskan lebih baik caranya yang diperbaiki menjadi lebih positif seperti mengenalkan tentang gedung-gedung sekolah/universitas, membuat kegiatan yang menjadikan peserta baru lebih kreatif, games, kunjungan kelas agar mereka tidak nyasar pas nyari ruangan, letak wc dimana aja, nama satpam siapa aja, apapun deh (asal jangan pake pukul-pukul kakaksss). Pokoknya jangan sampai bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2014 tentang Orientasi Peserta Didik Baru yang merupakan pengganti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 112/U/2011.

Dalam kegiatan MOS ini buat sesuatu hal yang positif tapi menyenangkan, pendisiplinan perlu untuk melatih mental tapi sewajarnya saja. Sehingga masa orientasi dapat memberikan kesan baik bagi peserta didik baru dan tidak akan ada perpeloncoan oleh senior, balas dendam dan kekerasan juga bakal hilang dengan sendirinya. Ya wajar sih kalau para senior ada yang marah-marah dan teriak-teriak gak jelas, itu demi kesuksesan dan kepentingan bersama. Tapi dalam lubuk hati terdalam mereka sayang kalian dan semoga kalian juga sayang mereka yaaa. Jadi, MOS, MOPD, Ospek, harus tetap ada sebagai ajang pengenalan siswa terhadap lingkungan juga memberikan pengalaman dan pengetahuan yang bermanfaat. (Nita/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *