[artikel] Lagu Lama: Parkiran Penuh

Pacu kendaraan hingga lebihi batas sadar, 80 km/jam sudah ditunjuk jarum speedometer. Belokan terakhir dan pedal rem tak terasa menurunkan intensitas berputarnya roda. Lampu sein pun sudah berkedip manja,  menikung ke kampus tercinta. Namun, sosok gagah dengan seragam kebesaran menghentikan kuda besi dan berkata, “Penuh a.” Sial rem tangan tak jadi ditarik, stang tak jadi dikunci, malah tambah setengah liter lagi untuk cari sepetak lahan bersandarnya si kuda besi.

Klise. Ini adalah hal biasa di setiap hari-hari kita, mahasiswa Unisba. Setidaknya, untuk 86,8 persen mahasiswa yang menggunakan kendaraan menuju kampus biru. Lebih dari setengahnya menggunakan roda dua dan seperempat lagi menggunakan mobil. Sisanya, mendukung program pemerintah, berkendaraan umum atau jalan kaki untuk tunaikan 1000 langkah perhari.

Dari 492 koresponden yang Litbang Suara Mahasiswa himpun, hampir tiga per empat-nya mengaku, senantiasa memarkir kendaraan mereka lebih dari empat jam selama di kampus. Tentu saja hal ini berdampak dengan tersendatnya sirkulasi kendaraan di beberapa area parkir resmi Unisba. Namun bukan berarti mahasiswa yang berkegiatan padat jadi biang keladinya, bukan?

Kami telah mencatat bahwa si biru memang kekurangan lahan parkir setidaknya dari tahun 2012 lalu. Lahirnya parkiran lantai dua di samping kampus Tamansari, hanya menampung sekiar 800 sepeda motor, itu pun sudah beradu spion. Sempat di awal tahun 2014 lalu, Agus Hamzah menitah mahasiswa untuk sadar diri, mantan Kepala Kamtiber itu meminta mahasiswa baru untuk tidak menggunakan kendaraan. Tentu respon negatif yang menanggalkan agenda itu.

Rencana pembangunan lahan parkir lain pun teragendakan, salah satunya di komplek parkiran, samping Sekretariat Menwa. Namun sayang, hal ini tetap menjadi agenda karena berbagai macam kendala, dari 2012 silam. Terbaru, adalah basement gedung anyar di sebelah rektorat, awal Januari lalu Koko Heriadi mengatakan saat beres nanti si gedung baru akan menampung 40 mobil. Setidaknya meringankan, bukan?

Hari ini, ketika Unisba telah menampung sekitar 12.000 mahasiswa, parkiran pun bagai sebuah tanah yang patut diperjuangkan dengan urat. Tidak percaya? Sikut-sikutan untuk mencari seperempat kali satu meter lahan adalah hal yang lumrah, 88,7 persen mahasiswa mengamini hal ini. Mereka mengaku kesulitan dalam memperoleh tempat kudanya merumput.

Nah, dari angka-angka di atas, masih kah perlu mengukur seberapa pentingnya lahan parkir baru?  Ya sudahlah, kadang-kadang kita pula yang harus berpikir ulang, mengingat Tamansari bukan milik Unisba saja. Beruntung 2 tahun lagi, Dishub menargetkan sebuah gedung parkir di daerah Cikapayang. Untuk kejelasannya, silahkan buka laporan kami via Suara Mahasiswa Selembar Edisi Oktober Ini! (Muhammad R. Iskandar/SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *