[Artikel] Kemenangan Cinta bagi 'Kaumnya'

Kata dengan #LoveWins kini sedang marak kita jumpai di berbagai media sosial seperti, Twitter, Instagram, Path, dan jejaring sosial lainnya. Buat kalian yang bertanya-tanya apa sih #LoveWins? Kok banyak orang luar yang ngeposting hastag atau kata-kata itu? Oh mungkin ini drama percintaan sepasang kekasih (cowok & cewek) yang ingin bersatu namun terhalang oleh restu orang tua layaknya kisah Romeo & Juliet? Bukan! Ini bukan kemenangan drama percintaan sepasang kekasih, melainkan kemenangan bagi mereka pasangan sesama jenis atau lebih dikenal dengan istilah Lesbian, Gay, Biseksual & Transgender/Transeksual (LGBT) yang menggunakan pelangi sebagai simbolnya.

Kenapa hal ini menjadi booming dan membuat bendera pelangi serta embel-embelnya ‘berkibar’ di beberapa penjuru dunia? Karena pada tanggal 26 Juni 2015 kemarin, Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis diseluruh negara bagian AS yang jumlahnya 50 negara. Kebayang dong, AS yang jadi negara adidaya di dunia melegalkan pernikahan sesama jenis? Sebelumnya juga sudah ada 18 negera di luar Amerika yang memperbolehkan rakyatnya untuk menikahi pasangan sejenis.

Terus apa pengaruhnya buat Indonesia? Jelas ada. Nilai mata uang kita aja patokannya Amerika, sekarang negara ini mengeluarkan suatu kebijakan pasti nantinya Indonesia bakalan kedampratan efeknya. Bukan tidak mungkin Indonesia nanti akan ngikut hal serupa dan ini pasti akan menjadi polemik yang berkepanjangan.

Oke, sekarang mending kita cari tahu dulu, emang di Indonesia ada kaum LGBT? Buat kalian yang suka stand up comedy, pasti pernah nonton stand up spesialnya Pandji Pragiwaksono “Messake Bangsaku” kan? Dalam materinya dia menyebutkan bahwa 16 Juta masyarakat Indonesia gay. Angka ini diambil dari pengguna situs manjam di Indonesia. Situs ini adalah tempat bagi para kaum LGBT bertemu, bersosialisasi, lalu kopi darat kemudian merajut tali cintanya lebih dalam lagi.

Wow, 16 Juta bukan angka yang sedikit untuk Indonesia, terlebih bila kelak mereka ingin menuntut kesamaan hak dengan para kaumnya yang berada di luar negeri. Bila dibandingkan dengan total penduduk Indonesia secara statistik berarti 1 dari 17 orang di Indonesia gay. Sebenarnya bukan niat men-judge kaum penyuka sesama jenis, tapi menurut pandangan saya, untuk apa menikah kalau toh pada akhirnya kalian tidak bisa menghasilkan keturunan. Karena pada dasarnya tujuan menikah itu untuk berkembang biak, iya bukan?

Mungkin banyak dari kita yang tidak memperdulikannya, banyak dari kita yang menggangap remeh persoalan ini. Namun, kebijakan pernikahan sesama jenis ibarat sebuah lapangan sepak bola yang tidak memiliki garis sebagai batasannya. Bila kita lihat lagi pada zaman Nabi, ketika itu Allah SWT menugaskan Nabi Nuh untuk mengubah perilaku warga kota Sadom karena menyalahi aturan Allah SWT, yaitu berhubungan dengan sesama jenis. Allah menghukum mereka dengan gempa dan hujan batu yang dahsyat sehingga kaum tersebut musnah tanpa sisa.

Lalu kini, para pecinta sesama jenis muncul kembali tapi bedanya kemunculan mereka kali ini didukung oleh hukum negara. Apa kita akan menunggu murka Allah SWT seperti yang ia lakukan kepada kaum Sodom?

Hal yang ditakutkan adalah musnahnya generasi masa depan bila orang-orang melakukan pernikahan sesama jenis. Apakah nanti di masa yang akan datang tidak ingin melihat anak cucu kita lahir ke muka bumi ini? Karena secanggih apapun teknologi tak akan bisa membuat pasangan sesama jenis memiliki keturunan. Sudah kodratnya lelaki membuahi dan perempuan dibuahi, lalu munculah si buah hati yang dibuat atas dasar cinta, bukan atas dasar ego yang menginginkan pernikahan sesama jenis.

Mungkin kini bendera pelangi itu hanya berkibar di dataran barat saja, tapi bukan tidak mungkin, cepat atau lambat bendera pelangi itu akan muncul di Istana Presiden Indonesia. Salam Pelangi! (Winda/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *