Adakah Alasan yang Baik untuk Menolak Hitam Putih?

Oleh: Bobby Agung Prasetyo*

Saya bukanlah orang yang mempermasalahkan hitam dan putih. Tidak ada, kecuali adik-adik menggemaskan yang “hitam di leher” dan “putih di muka”—sebuah fenomena tentang ketidakpercayaan terhadap dirinya sendiri. Hitam dan putih, bagi saya adalah sebuah kontradiksi yang sering diartikan sebagai keseimbangan, semisal konsep yin-yang. Atau ada pola lain yang berbicara tentang gonjang-ganjing hitam sebagai budaya dominan, putih sebagai yang termarjinalkan, lantas di tengahnya ada grey area sebagai tempat bagi mereka yang kebingungan. Semoga adik-adik yang saya gambarkan di atas barusan, tidak berkulit abu-abu bagai grey area, ya.

Bagi beberapa orang, hitam dan putih hanya dikenal sebagai program acara televisi mantan pesulap berkepalas plontos. Namun untuk kengkawan kesayangan di Fikom beserta jajaran akademisinya yang budiman, kedua warna ini adalah pergulatan tak habis-habis.

Ingatan ini masih segar, di mana saat itu saya berada dalam kondisi antara para pro di Fikom yang kembali menyematkan hitam-putih sebagai pakaian kebesaran saat UTS dan UAS, lantas jajaran kontra-is berteriak lantang menolaknya—tepat satu tahun silam. Hal ini seolah kembali mengambang ke permukaan tatkala beberapa hari lalu, salah satu sahabat tercinta bernama Raden Muhammad Wisnu menulis tentang penolakannya akan pemakaian hitam-putih saat sedang ujian. Sepaket argumen yang tentu saja, mewakili uneg-uneg sedari dulu, ingin saya bantah dengan jumawanya.

Mari kita mengulas tentang beberapa poin yang bikin dirinya menolak hitam dan putih:

  1. Teman saya ini adalah mantan mahasiswa dari universitas swasta lain yang tak menerapkan pemakaian hitam putih saat ujian berlangsung. Ia berpendapat bahwa intelektualitas mahasiswa tidak ditentukan oleh penampilan; modal ‘luaran’ doang, baginya bisa sangat menipu.
  2. Berbicara masalah karir, katanya mahasiswa dari fakultas lain semisal Teknik atau Psikologi memang layak membiasakan penyeragaman, dengan alasan takdir dari pekerjaan mereka konon menuntut untuk rapi. Kita, mahasiswa Fikom, tak rapipun tak masalah. “Berbeda dengan Fikom yang tidak seluruh lulusannya menjadi jurnalis, public relations maupun orang yang berkarir di dunia komunikasi dan media. Masing-masing individu memiliki jalannya sendiri-sendiri dalam mempraktikkan ilmu komunikasi yang dipelajarinya semasa kuliah,” tulisnya.
  3. Mahasiswa Fikom harus kembali mengeluarkan uang untuk membeli kemeja putih dan celana katun hitam. Mahal, katanya. Tak lupa, ia kembali menegaskan bahwa bapaknya bukan Aburizal Bakrie.
  4. Jangankan memakai kemeja putih dan celana hitam, memakai kemeja biasa serta jas almamater pun dirinya sudah dibuat panas karena ruang kelas di kampus Tamansari itu menggerahkan serta tak terpampang AC.
  5. Dekanat tak pernah melibatkan para mahasiswa dalam melakukan kebijakan. Ia kembali mengkomparasi tentang bagaimana transparannya kampus lain, semisal terbukanya mahasiswa sebagai audiens untuk memilih rektor baru. Tak lupa, hal lain semisal UU KIP, turut dibawa sebagai faktor yang menguatkan.

Kelima faktor tersebut, saya anggap—sampai ada yang berbicara lebih—sebagai perwakilan dari mahasiswa Fikom yang sama-sama menolak. Sebuah argumen bagus tentunya, meski dirasa hal inilah justru yang mencitrakan betapa ke-aku-akuannya diri kita demi meraih kebebasan semu.

Sebelumnya, saya akan menjelaskan tentang peraturan hitam putih yang bahkan bukan digagas dari Unisba, melainkan Komisi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) (untuk selengkapnya, simak edisi zine Ruang Tengah #2 yang akan berbicara banyak tentang hal ini). Aturan tersebut disematkan oleh Unisba sedari tahun 1996. Kisaran pertengahan dekade 2000-an, sekumpulan mahasiswa Fikom memperjuangkannya dan berhasil—sesuai dengan penuturan Ahmad Fauzan Sazli, alumni Fikom Unisba 2001. Kembali memutar memori, peraturan ini kembali bangkit di akhir tahun 2014 kemarin dengan alasan ketertiban serta kesamarataan.

Lanjut ke poin pertama, di mana kampus lain tak memakai hitam putih dan itu urung mempengaruhi kualitasnya. Dalam kasus ini, universitas yang dibandingkan ada dua: satu perguruan tinggi swasta di Ciumbuleuit sana, yang lainnya merupakan salah satu PTN ngetop se-Indonesia berlogo ganesha. Tanpa menggunakan lubuk hati yang paling dalam, sekalipun kedua kampus tersebut menggunakan setelan hitam putih saat ujian, kita masih akan kalah jauh dengan mereka. Bukan bermaksud pesimis, tapi ini adalah kejujuran yang hakiki serta penuh kesantunan tanpa berniat mengoyak hati para akhi dan ukthi warga Kampus Biru. Tak percaya? Cek di http://www.webometrics.info/en/Asia/indonesia%20.

Intinya: intelektualitas tak dipengaruhi dengan penampilan. Jika memang begitu, mengapa meresahkan pergantian kebijakan ini? Toh, mau hitam-putih ataupun bebas, bukannya bakal sama saja? Bagi saya, percuma berbicara tentang intelektualitas jika kita tak pernah menghirup ‘udara di luar rumah’ (dalam artian bergumul bersama mahasiswa dari fakultas lain) lantas membicarakan tentang makna sebuah perbedaan. Sejauh mata memandang dari 2011, presentase keterlibatan mahasiswa Fikom dalam dunia luar selain ‘kandang’nya sendiri pun konon tak lebih besar dari Fakultas Ekonomi, Syariah, Dakwah, MIPA, Hukum, pun Teknik. No offense.

Mendengar argumen tentang “intelektualitas tak dipengaruhi dengan penampilan”, saya merasa malu dan tidak enak terhadap rekan dari fakultas lain. Ya, ini bagaikan tusukan sarkas nan menyakitkan bagi mereka yang berseragam hitam-putih.

Karir, karir, dan karir. Saya ingat tentang obrolan para dosen Fikom mulai dari bidang kajian Public Relations, Ilmu Jurnalistik, dan Manajemen Komunikasi. Beliau-beliau yang terhormat ini, selalu berbicara kerapihan. Mereka yang nantinya menjadi humas, harus sadar betul bahwa tampil elegan adalah suatu keharusan. Begitupun para negosiator handal dari jurusan Mankom. Bagaimana nasib Ilmu Jurnalistik? Memang ada yang memberlakukan kebebasan, tapi banyak juga yang memilih untuk menyeragamkan pegawainya. Kalau maunya begitu, saya beri sedikit bocoran: tak usah masuk ke media televisi bergengsi sekelas NET. atau Trans. Mereka berseragam.

Jika Fikom dilabeli dengan argumen “bebas-berpakaian-saat-bekerja”, memang apa salahnya dengan fakultas lain? Berbicara soal menjadi pengusaha atau wiraswasta, bukankah ada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang lebih paham soal itu? Ah, karir adalah misteri yang lebih seram dari sekedar Susanna memakan 200 tusuk sate sekaligus. Anak psikologi, tambang, atau apapun itu, bisa saja bekerja menjadi apapun. Toh, saya pun kenal dengan beberapa alumni Fikom yang kini bekerja di media berseragam atau juga Bank.

Saya pribadi tahu betul bahwa membeli kemeja putih serta celana katun hitam adalah proses yang ribet lagi. Jika sekarang berbicara tentang kata “mahal”, saya garisbawahi kembali bahwa masuk Unisba, khususnya Fikom, jelaslah mahal. Kalau tidak salah, dulu menjadi yang termahal kedua setelah Fakultas Kedokteran (FK). Hal ini bukan soal tebal atau tidaknya dompet saya, karena coba berpikir secara logis, PPMB saja kita mengenakan hitam-putih. Bajunya pun masih ada. Ah, masa-masa menggemaskan itu…

Dan toh, badan pun tak melar-melar amat dalam kisaran waktu 3 sampai 4 tahun ini, bahkan untuk mahasiswa tua sekalipun…

Seperti saya.

Satu hal yang saya herankan adalah keluhan tentang kostum hitam-putih yang akan panas serta gerah jika dipakai di kampus Tamansari. Jujur saja, mau mengenakan kostum selain hitam-putih pun, konon bahasan ini akan mengantarkan kita pada portal permasalahan lainnya yang jujur demi apapun—ungkapan sumpah masa kini—sudah terlalu bosan bagi diri ini untuk membahasnya: FASILITAS. Jangan salahkan kemeja putih dan celana hitam, kalau ruangannya sempit serta panas tanpa adanya AC.

Selanjutnya, di mana hal ini adalah yang paling menggelikan di antara lainnya: nafsu syahwat. Betulkah libido Anda akan terpancing buas dengan hanya melihat kemeja ketat serta tali bra yang bentuknya begitu-begitu saja? Kalian sungguh lemah.

Dekanat hingga sekelas Rektorat, mesti tegas dengan hal ini. Beri sanksi untuk mahasiswi berpakaian ‘mengundang’ dan mahasiswa yang memakai celana ketat sampai-sampai alat vitalnya bagai meronta-ronta ingin lepas dari resleting. Kita pun jangan sampai terlalu bodoh untuk sekedar berpakaian ketika ujian, karena sesuai dengan perkataan Wisnu: intelektualitas tak dipengaruhi dengan penampilan. Teman-teman mahasiswi Fikom yang terkasih, kalian takkan mendadak pintar dengan busana yang ketat…

Kecuali mendapat contekan dari si mahasiswa yang dari tadi fokus terhadap tali bra Anda.

Berbicara terang-terangan, saya justru lebih tertarik dengan—misalnya—mahasiswi Fakultas Psikologi yang berpakaian santun lewat kemasan hitam-putih. Maka dari itu, akuilah mahasiswa Fikom, bahwa kita juga pernah melihat kawan perempuan sefakultas yang ketika UTS atau UAS berpakaian seksi dan mengumbar-umbar bahkan tanpa kemeja hitam-putih.

Akuilah.

Poin ini sebenarnya sedikit meragukan, bahwa kebijakan fakultas haruslah melibatkan mahasiswa. Ini seperti membayangkan tentang kitab konstitusi suatu negara yang dibuat oleh hasil pergumulan antara presiden, menteri, dan sekumpulan warga setempat. Pertanyaannya, maukah kita terlibat dalam menetapkan aturan pakaian, jika mengisi kuesioner saja masih menderet huruf A tanpa membaca pertanyaan? Sudikah Anda menghabiskan waktu untuk ikut menggarap kurikulum perkuliahan Fikom, jika tugas saja masih menjilat kerak Google? Saya pun mendambakan tentang keterlibatan memilih rektor. Tapi, bukankah itu terlalu melebar dari pembahasan kostumisasi?

Setelah itu, fakultas diserang sampai megap-megap. Padahal jika berbicara secara luas, kita seolah hanya memukul boneka: sekeras apapun, ia takkan merasa sakit. Sasarannya salah, seharusnya rektorat yang kita ajak diskusi. Lantas coba pikir ulang, apakah mereka akan geli melihat tindakan kita, sementara di sisi lain kita tak memperjuangkan fakultas sekitar? Tak hanya mereka, mungkin teman-teman dari fakultas lain juga akan menaruh pandangan ganjil terhadap diri kita.

Ada baiknya, resistensi ini disatupadukan bersama sahabat dari gedung fakultas lain guna tak terkesan egois dan mau keren sendiri; kecuali ada alasan lain yang lebih logis, kuat, dan tangguh untuk diperjuangkan. Sudahkah kita menemukan alasan itu?

Menyoal masalah lain, hal-hal tersebut hanya akan menjadi bias dan distorsi dalam ranah hitam putih dan jelas tak perlu dibawa-bawa. Itulah mengapa, gawang dalam sepakbola tak lebih dari dua: agar semua tujuan dan tendangan dari kedua tim berlabuh pada masing-masing satu jaring. Itulah mengapa, tak ada satupun pelatih yang menerapkan strategi berantakan tanpa struktur rapi.

Pasti ada satu hal personal yang terdapat dalam diri kita, saat penolakan hitam-putih itu keluar dari mulut. Entahlah, sesuatu yang sebetulnya sangat subjektif dan tak berguna-berguna amat buat kemaslahatan umat. Jika masih ingin lanjut memperjuangkan, toh tak masalah. Saya pribadi pun mendambakan untuk melepaskan belenggu kemeja putih dan celana hitam. Namun, adakah alasan yang baik dari sekedar “kita ingin menjadi yang beda!” atau “intelektualitas tak mempengaruhi penampilan!”? Adakah?

Kita mesti merencanakan secara matang agar segala penolakan, apapun itu juntrungannya, mengandung makna yang berbobot serta dilandasi oleh sesuatu yang kuat—bukan hanya sebatas ke-aku-akuan saja. Lagipula, skemanya takkan pernah berubah sedari dulu: sebuah kebijakan muncul, tak diterima, protes, mencari jalan keluar, dan mufakat berlangsung dengan solutif serta khidmat.

Balik lagi, bahwasanya tulisan saya sekarang bukan tentang penyuluhan betapa perlunya menggunakan kostum hitam-putih saat UTS atau UAS. Jika saya mesti terima-terima saja dengan kebijakan ini, pilihan tersebut terjadi karena tak adanya alasan kuat yang bisa mendobrak secara frontal serta tak ada sedikitnya pandangan tentang kehadiran hitam-putih dari fakultas lain. Apakah perlawanan yang terjadi kala pertengahan dekade 2000 lalu itu, sudah hilang maknanya pada detik ini? Perlukah merancang skema baru, wahai mahasiswa Fikom, jika masih ingin tetap berjuang?

Perlu bagi kita untuk mempelajari zeitgeist dari para pejuang anti hitam-putih dekade 2000-an tersebut agar makna perjuangan kita saat ini tak bias dan mengabur.

Tak selamanya kekalahan terhadap penyeragaman ini menjadi sesuatu yang buruk, meski secara de facto hanya kitalah satu-satunya yang berpeluang menggunakan pakaian berbeda dari fakultas lain.

Bukankah kita menghargai kebebasan lewat perjuangan anti hitam-putih ini? Jadi, adanya tulisan ini sebetulnya hanya angin lalu saja bukan, bagi jajaran para penolak seragam? Adapun mereka yang mendukung hitam-putih dengan setiap alasannya, mengapa harus takut? Toh, kebebasan adalah hal yang semua orang inginkan, bukan? Bahkan kita sendiri menginginkan itu. Kebebasan semu, yang tak penting-penting amat buat kemaslahatan umat.

Sudahkah kita menemukan alasan yang baik untuk menolak hitam-putih? Kalau belum, mari ikut bersama saya untuk memusingkan adik-adik imut bertagar #OOTD di instagram sana yang “hitam di leher” dan “putih di muka”.

*penulis adalah mahasiswa Fikom Unisba 2011

4 tanggapan untuk “Adakah Alasan yang Baik untuk Menolak Hitam Putih?

  • November 11, 2015 pada 9:42 am
    Permalink

    Kalau boleh tahu, adakah sanksi terhadap peraturan Kopertis mengenai hitam-putih ini bila dilanggar?

    Balas
  • November 11, 2015 pada 9:42 am
    Permalink

    Kalau boleh tahu, adakah sanksi terhadap peraturan Kopertis mengenai hitam-putih ini bila dilanggar?

    Balas
  • November 12, 2015 pada 8:59 pm
    Permalink

    Yang pasti buat UTS dan UAS jangan lupa pake baju ya, itu yg paling penting! Salah2 bingung milih baju biasa atau hitam putih malah lupa ga pake baju.. Hahaha

    Balas
  • November 12, 2015 pada 8:59 pm
    Permalink

    Yang pasti buat UTS dan UAS jangan lupa pake baju ya, itu yg paling penting! Salah2 bingung milih baju biasa atau hitam putih malah lupa ga pake baju.. Hahaha

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *