Perayaan Ulang Tahun Tidak Harus dengan Kue dan Balon

Peserta lomba tari, SMKN 1 Cipanas menampilkan tarian Aria Cikondang di acara Festival Budaya Lingkung  Seni  Budaya Sunda (LSBS) Unisba, pada Sabtu (28/09/2019).

Jika perayaan ulang tahun identik dengan kue dan balon, berbeda dengan Lingkung Seni Budaya Sunda (LSBS) Unisba yang  memperingatinya dengan mengadakan ‘Budaya Festival’. Mereka melangsungkan perhelatan hari jadi atau yang disebut milangkala selama dua hari berturut-turut pada 27 sampai 28 September 2019. Acara ini mengusung tema ‘Tina Budaya Urang Napak, Dina Budaya Urang Ngapak’ yang di dalamnya ada tiga rangkaian  yaitu open house, pasanggiri, dan festival budaya.

Ketua pelaksana Budaya Festival, Nurul Khofifah mengatakan tema ini memiliki arti ‘Kita Berasal dari Budaya, dan Kita Bisa Sukses oleh Budaya’. Alasan mereka memilih tema tersebut karena banyak orang yang berpikiran jika masuk ke dalam lingkup budaya itu sulit berkembang (stuck). Padahal menurut Nurul kenyatannyannya tidak seperti itu.

“Jika kita terus mengembangkan dan ngamumule budaya sunda akan membuat kita berkembang dan kuat karena memiliki banyak relasi,” ujarnya saat kami temui di Aula Unisba. (28/10)

Di hari pertama milangkala mereka mengenalkan lingkup LSBS dengan tajuk open house. Mereka memulainya dengan mengenalkan lingkup seni peran dengan membawakan longser. Para aktor longser melakukan woro-woro (pengumuman) di luar aula untuk memanggil dan mengumpulkan massa dengan bahasa sunda. Hal unik itu menarik perhatian kami yang sedang senggang di kampus, lantas membuat kami penasaran sehingga ingin datang berkunjung.

Masih di lokasi yang sama, pengenalan berlanjut melalui penampilan tiga orang yang mengenakan busana nuansa merah muda. Mereka berlenggak-lenggok membawakan tarian Kembang Tanjung, sambil diiringi suara tabeuhan karawitan dari dalam aula. Ketika kami memasuki area Aula Unisba suasana khas sunda begitu terasa, para panitia menyambut kami dengan mengenakan kebaya khas sunda. Tidak hanya itu, panitia memberikan bingkisan Majalah Mangle untuk semua pengunjung yang datang.

Kami berpikir akan merasa bosan dengan penampilan yang begitu-begitu saja, namun ternyata tidak. Penampilan longser  berjudul ‘Salah Pelet Jangjawokan’ sukses memecah tawa penonton dan berhasil mematahkan pikiran kami sebelumnya. Walau begitu, cerita dari longser ini tidak kehilangan nilainya. “Meski kita keluar dari zona nyaman, jangan kehilangan jati diri yang sebenarnya,” tegas Nurul.

Hari selanjutnya, LSBS mengadakan acara pasanggiri (lomba) tari kreasi tradisional dan aksara sunda yang diikuti dua puluh sekolah SMA sederajat se-Jawa Barat. Kami terhibur dengan berbagai macam penampilan tari yang ciamik. Penampilan para peserta berhasil memadukan gaya tradisional dan modern dengan begitu epic. Sementara itu untuk menjaga konsentrasi peserta, kegiatan lomba aksara sunda berlangsung di Student Center (SC) Unisba.

Setelah semua peserta menampilkan kelihaian menari dan menguji kemampuan menulis aksara sundanya, kemudian sampailah di sesi pengumuman pemenang Juara pertama tari kreasi tradisional dimenangkan oleh peserta asal SMA Negeri 1 Baleendah. Kemudian kami bertanya kepada salah satu dari lima orang penari yang bernama Rafi Rasyidah Dhiya’ulhaq, dia bercerita kalau persiapan yang dilakukannya begitu singkat. “Ini juga ngedadak dua hari latihan, engga ada pelatih sama penata musik jadi ga serius latihannya,” ujar peserta yang membawakan tari Angga Karabela ini.

Sedangkan untuk lomba aksara sunda, pemenangnya berasal dari SMA 1 Soreang, Nufal Fawwaz Dienulloh. Ia mengungkapkan kesulitannya dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba. “Kesulitan ngeunaan ngarobah aksara laten ka aksara sunda, margi kedah boga konsentrasi anu tinggi,” ujarnya menggunakan bahasa sunda lemes.

Belum selesai sampai di sana, penghujung acara pun berlangsung begitu meriah dengan mengundang DJ Ully Traditionaltechno dan Punkcut The Balidor. Lagi-lagi acara ini menampilkan perpaduan yang sangat apik, musik modern dan tradisional berpadu menjadi begitu megah.

Mahasiswa fakultas ilmu komunikasi, Risma Khotimah yang mengunjungi acara ini mengaku senang dan terhibur, “Paling suka bagian jaipongan sama tamunya, karena aku lebih suka kesenian sunda dari pada modern” ujar mahasiswa tahun 2018 tersebut.

Repoter : Laily Kurniawati

Penulis : Laily Kurniawati

Editor : Meilda Amdza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *