Jangan Larut dalam Stres, Pergilah ke Konser Musik

Kamu penat dengan kegiatan yang monoton? Ingin menghilangkan rasa bosan yang bikin kamu stres? Pergi ke konser musik bisa jadi pilihan.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh O2 Arena (tempat konser musik) dan Dosen Universitas Goldsmith, Patrick Fagan, nonton konser musik secara rutin dapat membantu meningkatkan umur sampai sembilan tahun. Peningkatan umur sejalan dengan tingginya tingkat kesejahteraan. Hanya 20 menit menonton konser, dapat meningkatkan perasaan sejahtera hingga 21 persen.

Konser Musik Face to Festival 2019

Berhubungan dengan hal itu, pada Minggu (24/11) sore yang mendung, kami pun menyempatkan untuk datang ke perhelatan musik Face to Festival 2019: Art and Journalism oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Universitas Islam Negeri (UIN).

Saat kami tiba di sana, pengunjung sudah memadati venue. Kami disuguhi dengan penampilan para musisi, Agar tidak bosan, sembari menunggu, penonton dihibur oleh live mural, bazar makanan, dan pameran foto jurnalistik.

Sekitar pukul 19.30 WIB, musisi selanjutnya unjuk gigi. Kunto Aji membawakan beberapa lagu dalam album terbarunya “Mantra Mantra”. Album tersebut mengangkat kesehatan mental berdasarkan pengalamannya. Penonton pun dibawa untuk memahami kesehatan mental sebagai persoalan penting.

Usai turun panggung, Aji mengaku lagu ciptaannya berjudul “Rehat” memang dibuat untuk menyehatkan mental. “Di lagu itu [Rehat] memasukkan frekuensi Solfeggio Frequencies. Afirmasi lirik dan Solfeggio membuat energi positif,” katanya kepada Suara Mahasiswa. Solfeggio Frequencies merupakan hasil penelitian dari psikolog Amerika Serikat, Joseph Pulio.

Dilansir CNN Indonesia, lagu “Rehat” menerapkan frekuensi tingkat pertama, yakni 396 Hz yang dianggap bisa mengeluarkan pikiran negatif atau liberating guilt and fear. Frekuensi lain adalah 417 Hz bisa memperbaiki situasi dan mendorong perubahan (undoing situations and facilitating change), 528 Hz bisa transformasi dan keajaiban (transformation and miracles), 639 Hz bisa membangun hubungan (relationship), 741 Hz menimbulkan solusi (solutions) dan 852 kembali memahami jiwa (returning to spiritual order).

Lalu aksi panggung The Panturas yang menyuguhkan Gurita Kota, Fisherman’s Slut, Sunshine, dan lainnya. Ibarat terkena arus ombak, penonton terombang-ambing berkat gesitnya lagu-lagu The Panturas.

Tagar “Reformasi Dikorupsi” terbentang di depan panggung. Efek Rumah Kaca (ERK) membawa suasana terkini yang mereka anggap tidak baik-baik saja. Meski begitu, penonton tidak lama-lama larut dengan suasana masa kini. Di puncak acara, Feel Koplo membuat goyang sambil berdendang. Bagi personil Feel Koplo, Maulfi Ikhsan dan Tendi Ahmad, dangdut adalah aliran musik yang menyehatkan.

Reni Guyuna Sari, salah satu pengunjung yang mengaku datang ke Fest to Face 2019 untuk menghilangkan jangarnya rutinitas kerja. “Musik bisa membuat bahagia tergantung pembawaannya. Misalnya kayak yang memotivasi atau kisah cinta,” ucap perempuan berkerudung hitam itu.

Reporter: Febrian Hafizh Muchtamar & Puspa Elissa Putri

Penulis: Febrian Hafizh Muchtamar

Editor: Meilda Amdza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *