Harusnya Kita Paham Sejarah dan Kultur Suporter Sepak Bola Indonesia

Diharapkan dengan adanya pelurusan sejarah dan pemahaman kultur suporter sepakbola di Indonesia membuat seluruh pihak berkonflik sadar.”

Demikian harapan pecinta sepak bola seperti “Dobrak Pagar”. Siapa yang tidak mengenal sepak bola? Jangan tanya pada bayi yang baru menghirup oksigen bumi, ya. Sepak bola menjadi olahraga popular di muka bumi, menyisihkan cabang olahraga lain sebelumnya seperti atletik dan renang. Sepak bola pun menghadirkan sekumpulan masyarakat pendukung tim sepakbola yang dikenal “suporter”.

Tanpa hadirnya penonton dan suporter, sepak bola bagaikan sayur tanpa garam, HAMBAR. Ngomong-ngomong soal suporter. Banyak yang terjadi, kalau diceritakan tulisan 2 menit 09 detik ini amat sangat  tidak bisa menjelaskan itu semua. Mari kita ambil satu Bab, “konflik”. Sejarah suporter Indonesia memiliki cacatan konflik, yang bahkan merenggang nyawa. Pada akhirnya, dihakimi.

“Nonton bola wae rusuh,” sepenggal kalimat curhatan penulis, mungkin kamu juga.

Kenapa?

Seharusnya ragam kultur tribun dicintai ketimbang dihakimi. Mungkin sebaiknya kita mengenal dahulu sejarah suporter sepak bola ini sehingga tidak hadir kembali konflik sehabis wasit meniup peluit panjang.

Dobrak Pagar, salah satu channel Youtube yang kini memiliki +- 10 ribu subscriber, mengadakan acara sharing dan bedah film Dobrak Pagar. Acara ini berlangsung di Kabar Kampus Café, jalan Sultan Tirtayasa, Badung pada Sabtu (7/9) pukul 16.00 WIB. Kamu kelewatan ya?  

Acara sharing dan bedah film Dobrak Pagar, berlangsung di Kabar Kampus Café, jalan Sultan Tirtayasa, Badung pada Sabtu (7/9) pukul 16.00-19.00 WIB.

Crew Dobrak Pagar sekaligus moderator, Randy Aprialdi yang biasa di sapa “Ntenk”, menjelaskan tujuan utama adanya film tersebut menyadarkan bahwa supporter itu penting dalam club sepak bola. Begitu juga pengorbanan supporter harus dihargai karena sangat berpengaruh bagi club yang mereka dukung.

Acara ini juga menghadirkan langsung narasumber, Sekaligus untuk membedah dan memberikan verifikasi dari kutipan-kutipan narasumber dalam episode: Bandung, chapter satu, dua, dan tiga. Dobrak Pagar pun menceritakan bagaimana perjalanan produksi film yang sudah berlangsung.

Kamu ingin tahu asal muasal bobotoh, bobotoh di era perserikatan, organisasi bobotoh dan subtansinya, dan membahas bagaimana culture bobotoh di kalangan anak muda?

Dobrak Pagar berhasil mengemas itu semua. Ditambah narasumber yang mantul (mantap betul) sepeti Arlan Siddha (Akademisi), Agus Bejo (Ketua Harian Bomber), dan A.S (DT Bobotoh).

“Antusiasme dari acara ini diluar dugaan, saya kira bakal sedikit, karna di Bandung kan banyak acara besar. Saya ga nyangka bakal sebanyak ini.” Ucap Ntenk.

Randy Aprialdi “Ntenk” tengah berinteraksi dengan pengunjung acara.

Akademisi sekaligus narasumber, Arlan Siddha menanggapi acara bedah film ini dianggap sangat menarik terutama dalam konten yang dibahas, karena banyak hal yang bisa di edukasi kepada bbotoh yang hadir.

“Dan ini juga kemudian bisa saja jadi projek daerah-daerah lain sih yah nantinya. Harapan saya untuk Dobrak Pagar sih nantinya lebih bisa menjebatani supoter yang clash dan mampu menjelaskan secara gamblang bagaimana supporter di Indonesia.”

Penasaran? Langsung aja check channel Youtube Dobrak Pagar dan jangan lupa siapkan snack dan cola mu saat nonton ya!

Penulis: Puspa Elissa Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *