Luar Kampus, News, Uncategorized

Akhir Evakuasi Dewata

Teks Oleh : Randy Aprialdi. S Foto Oleh : Bobby S Noor Senin (01/03). Adalah hari terakhir evakuasi kepada lokasi bencana alam longsor yang terjadi di Kp. Dewata Desa Tonjolaya Kecamatan Pasir Jambu Kabupaten Bandung Barat. Hal ini dikarenakan kesepakatan dari pihak Polres setempat beserta warga korban bencana yang diamini oleh Bupati [...]

Continue Reading

Luar Kampus, News

Wadah Film Indie

Teks Oleh : Egi Pradipta Foto Oleh : Idham Pradipta “Kalo udah besar kamu pengen jadi apa ?” “Apa aja deh. Asal bukan Cina” Cuplikan percakapan diatas diambil dari sebuah film Indonesia yang berjudul Blind Pig Who Wants to Fly yang di tanyangkan di akhir acara sebagai special screening GFF(Ganesha Film Festival) [...]

Continue Reading

Luar Kampus, Musik, News

Standing Applause untuk Pasuma

Teks oleh: Kirizki Setiana Foto oleh: Aniza Septia Cinta memang satu kata yang tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Di bulan penuh kasih sayang ini, Paduan Suara Mahasiswa (Pasuma) Unisba mempersembahkan konser musik dengan tema “Long Way to Get Love” pada Sabtu (20/02). Gedung Sunan Ambu STSI menjadi saksi betapa spektakulernya konser pada [...]

Continue Reading

Luar Kampus, News

We Want More Placebo

Teks dan Foto oleh : Nurul Rafeequa “The end of the century I said my goodbyes For what it’s worth…” No. we don’t want your goodbye! we want more Placebo!!! Potongan lirik lagu For What Its Worth dibaris paling atas tersebut telah mengantarkan para penggemar Placebo, Band asal Inggris yang menggelar konser [...]

Continue Reading

Luar Kampus, Musik, News

SKA di Hari Valentine

Teks oleh: Kirizki Setiana Foto oleh: Amelia Handayani Bunga mawar dan nuansa pink tidak memenuhi Rockhouse pada Minggu (14/02). Pemandangan yang cukup berbeda dengan tempat lainnya mengingat bahwa hari itu adalah Valentine. Kostum ala Rude Boy menghiasi setiap sudut ruangan dan tiupan terompet yang khas membahana meramaikan suasana. Ska itulah musik [...]

Continue Reading

RECENT VIDEOS

Click below to view videos...

contoh kamera lubang jarum

contoh kamera lubang jarum

Oleh : Amelia Handayani

Di zaman post modern ini, orang-orang lebih senang dengan hal-hal yang mudah dan praktis. Apalagi dalam hal fotografi. Lebih banyak pengguna kamera digital dari pada kamera yang masih menggunakan roll film. Namun, Ray Bachtiar Drajat seorang fotografer handal sekaligus pendiri Komunitas Lubang Jarum ini, berhasil menemukan kembali sebuah kamera yang terbuat dari kaleng atau dus yang dilubangi sebatang jarum. Kamera ini biasa disebut kamera lubang jarum atau Pinhole Camera. Karena hasil gambarnya berasal dari lubang pada sebuah kaleng yang dilubangi menggunakan jarum.

Awalnya, tahun 1997 fotografer yang akrab dipanggil kang Ray ini, memotret pagar depan rumah tinggalnya menggunakan Pinhole Camera kaleng susu 800 gram dengan negatif kertas. Lalu pada tahun 2001, beliau menulis sebuah buku yang berjudul “MEMOTRET dengan KAMERA LUBANG JARUM” terbitan Puspaswara. Selanjutnya, digelarlah workshop perdana di Bantar Gebang tepatnya di Desuputra. Dan dilanjutkan tour ke Jawa, Bali, bahkan Makassar untuk mengumpulkan orang-orang yang berminat masuk dalam Komunitas Lubang jarum ini. Dan pada 17 Agustus 2002 terbentuklah KOMUNITAS LUBANG JARUM INDONESIA (KLJI) sebagai komunitas para pemain Kamera Lubang Jarum di Indonesia. Hasilnya, banyak sekali yang berminat untuk gabung dalam komunitas ini. “ kalo ditanya berapa banyak anggota KLJI ini, kayanya gak kehitung. Soalnya udah tersebar luas, di berbagai pulau ” jawab kang Ray.

Pinhole Camera ini cara menggunakannya tidak seperti kamera pada umumnya, yang menggunakan mata dan tangan. Melainkan hanya menggunakan tangan dan perasaan atau insting kita. Oleh karena itu, logo dari komunitas ini adalah tangan. ” Karena dengan tangan, kita berusaha mempelajari karakter dari objek yang akan kita foto. Sehingga secara tidak langsung kita belajar olah rasa, olah pikiran, dan olah fisik ” jelas kang Ray. Proses kerja Pinhole Camera membutuhkan kesabaran dan perasaan yang kuat. Biasanya memakan waktu yang lama jika mengambil objeknya dalam tempat yang gelap. Kira-kira sampai 22,5 jam hasil gambar akan didapat. Namun, jika keadaan cuaca cerah dan panas terik, dalam hitungan detik saja gambar akan mudah didapat. Cara mencetak fotonya pun dilakukan di kamar gelap yang masih menggunakan proses developer, stopbath, dan fixer.

Komunitas Lubang Jarum Indonesia merupakan komunitas yang telah menghidupkan kembali sejarah fotografi. Yang bermula dari kotak penangkap bayangan gambar untuk meneliti konstelasi bintang-bintang yang dipatenkan ahli perbintangan Gemma Frisius, tahun 1554. Disaat teknologi digital sedang booming, komunitas ini tetap berpegang teguh dengan sejarah. Dengan ketidaksempurnaannya Pinhole Camera, dapat menghasilkan gambar yang artistik dan membanggakan. “ ketika kamera tidak sempurna, kita sendiri yang harus sempurna “ jelas pria yang berprofesi juga sebagai staf pengajar di Darwis Triadi School of Photography.

Berita Foto

Posted on 04 March 2010

salah satu mobil tidak memperdulikan rambu-rambu di sekitarnya, (Bandung 3mret10 16.43 WIB)

salah satu mobil tidak memperdulikan rambu-rambu di sekitarnya, (Bandung 3mret10 16.43 WIB)

oleh: M. Ikhsan Gassani

Comments (1)

Resensi

Novel Filsafat

Posted on 02 March 2010

denz147

Teks dan Foto oleh : Deden Hamzah Pratama

Judul Buku : Dunia Sophie

Penulis : Jostein Gaarder

Penerbit : Mizan Pustaka

Tebal Halaman : 553

Tahun terbit : 1996

Novel ini bercerita tentang seorang anak berusia empat belas tahun yang mendapatkan surat – surat mesterius yang berisi tentang filsafat. Anak itu bernama Sophie Amundsend. Dia baru duduk di bangku SMP. Ayahnya bekerja di Libanon sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Sophie mempunyai teman bernama Joanna.

Di buku ini Sophie belajar tentang filsafat dari surat - surat misterius yang didapat. Sejak mendapatkan surat itu kehidupan Sophie mulai berubah. Dia lebih suka menyendiri untuk memikirkan pertanyaan – partanyaan filsafat yang dia dapatkan. Dia mempunyai guru filsafat bernama Alberto Knox.

Dalam Novel ini banyak mengisahkan bagaimana usaha Sophie untuk menemukan jawaban dari segala ilmu filsafat yang dipelajarinya. Buku ini juga menceritakan tokoh –tokoh filsafat dan alirannya dari berbagai Negara . Banyak tokoh filsafat dalam Novel ini mempunyai pandangan tentang alam dan sosial.

Namun sayangnya, novel ini tidak memiliki gambar penjelas di dalam ceritanya. Novel ini juga tidak menampilkan gambar tokoh – tokoh filsafat yang diceritakan sehingga para pembaca menjadi penasaran dengan tokoh – tokoh filsafat itu.

Satu hal yang membuat Dunia Sophie berbeda dengan novel filsafat lainnya karena novel ini mengajarkan filsafat secara sederhana. Melalui cerita fiktif membuat pembaca dapat lebih mudah memahami ilmu filsafat.

Comments (0)

Berita Foto

Angkat Mayat

Posted on 01 March 2010

Para petugas dari TNI,POLRI dan sejumlah relawan sedang mengangkat jenazah perempuan yang tertimbun longsor Selasa (22/02) dan baru di ketemukan Minggu sore (28/02). (Dicky Permana/SM)

Para petugas dari TNI,POLRI dan sejumlah relawan sedang mengangkat jenazah perempuan di desa Tenjolaya kecamatan Pasir Jambu yang tertimbun dari hari Selasa Lalu (22/02) dan baru di ketemukan Minggu sore kemarin (28/02). (Dicky Permana/SM)

Comments (0)

Berita Foto

Berkabut

Posted on 01 March 2010

Sepanjang jalan Soekarno-Hatta tadi pagi (01/03) tertutup oleh kabut. jarak pandang pengendara kendaraan hanya sampai 200-300 meter (Dicky Permana/SM)

Sepanjang jalan Soekarno-Hatta tadi pagi (01/03) tertutup oleh kabut. jarak pandang pengendara kendaraan hanya sampai 200-300 meter (Dicky Permana/SM)

Comments (0)

Resensi

Harimau di Dalam Jiwa

Posted on 25 February 2010

harimauharimau2

Teks oleh : Egi Pradipta

Foto: Istimewa


Judul : Harimau! Harimau!

Penulis : Mochtar Lubis

Cetakan : I, Mei 1992

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Tebal : VI+ 214 halaman


Harimau! Harimau! adalah buku yang telah mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama sebagai buku penulisan sastra terbaik di tahun 1975.

Buku ini berisi tentang perjuangan dan perjalanan tujuh orang lelaki pengumpul damar yang diburu oleh seekor harimau yang kelaparan. Dalam upaya meloloskan diri dari buruan harimau tersebut, mereka mengalami pergulatan hebat dalam diri mereka. Mereka takut bahwa harimau yang memburu mereka adalah harimau siluman. Harimau yang dikirim oleh Tuhan untuk menghukum setiap dosa yang telah mereka lalukan. Setiap tokoh terpaksa harus menelanjangi diri mereka lapis demi lapis.

Berbagai topeng yang mereka kenakan selama ini, topeng-topeng yang melindungi mereka agar tetap bisa bersosialisasi dengan bebas sekarang telah hilanng. Wak katok, orang yang selama ini di anggap sebagai pemimpin di desa ternyata menyimpan banyak dosa yang tidak diketahui oleh orang banyak.

Bahasa yang digunakan oleh pengarang akan membuat setiap pembaca terpikat dan terpesona dengan kemampuannya dalam mengambarkan banyak hal. Kemampuannya dalam mengambarkan suasana hati serta pergolakan dalam diri masing-masing tokoh ditampilkan dengan sangat baik dan akan terasa begitu nyata.

Banyak hal menarik yang bisa kita ambil dan pelajari dari novel ini. Pelajaran paling penting dalam novel ini adalah kita harus bisa membunuh harimau yang ada dalam diri kita.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan sedang dibuat terjemahannya dalam bahasa Jepang.



Comments (0)

Luar Kampus

TAMAN YANG SELALU TERKUNCI

Posted on 08 February 2010

Pintu gerbang taman Maluku yang tampak terkunci setiap hari.

Pintu gerbang taman Maluku yang selalu tertutup setiap hari.

Teks oleh : Idham Pradipta

Foto oleh : Deden Hamzah Pratama

Bandung, Senin(08/02). Bila kita telusuri sekitar Jl. Maluku akan terlihat sebuah taman bernama Taman Maluku. keadaan taman itu terlihat sepi karena tidak ada orang yang singgah. Hal ini dikarenakan selalu terdapat gembok yang mengunci gerbang taman. Sehingga menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat, ada apa dengan Taman Maluku?

“Sebenarnya kami menutup taman untuk melindungi dari para gepeng dan PKL (pedagang kaki lima) yang sering merusak fasilitas taman”, ujar Iwan Sugiono selaku kepala seksi pemeliharaan sarana prasana taman. Banyak para gepeng yang menjadikan taman Maluku sebagai tempat tinggal sehingga mengganggu kenyamanan dan kebersihan taman. Para gepeng merusak fasilitas taman seperti mencoret tembok, mencabut besi plang untuk dijual dan membuang kotoran sembarangan.

Masyarakat boleh menggunakan taman, asal melalui prosedur yang telah ditetapkan Dinas Pertamanan. Salah satu prosedurnya yaitu mengajukan proposal untuk mendapatkan izin masuk. Iwan Sugiono berharap masyarakat ikut andil dalam pelestariaan seluruh taman di kota Bandung.

Comments (1)

SEE MORE ARTICLES IN THE ARCHIVE