News

Musik Ala Karinding Attack

Teks dan foto oleh: Riva Latifah Dibeberapa media seni, para tokoh tradisi menyatakan bahwa karinding dan celempung sudah hampir punah keberadaannya dan tidak banyak orang sunda sendiri yang mengetahui tentang alat tersebut. Awal tahun 2009, Utun dan teman-temannya membentuk kelompok musik “Karinding Attack”. Karinding ini merupakan alat musik tradisisonal sunda yang terbuat dari bambu. [...]

Continue Reading

Berita Foto, News

Oleh : Bobby S. Noor

Continue Reading

News, dalam kampus

Pra Inagurasi Fikom 2008

Teks & Foto Oleh : Vitri Afry Sabtu (20/06/09), Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba menggelar sebuah event yang bertema “Respect All People in Indonesia”. Perhelatan ini digelar sebagai inagurasi anak-anak fikom 2008 dan sebagai Pra event ‘kampus night’ yang akan diadakan di Score pada tanggal 29 juli mendatang. “Acara ini digelar untuk mempersatukan dan mengakrabkan [...]

Continue Reading

Luar Kampus, News

Gedung Indonesia Menggugat Begitu Hikmat

Teks dan Foto Oleh : Arfian Jamul Jawaami Gedung Indonesia Menggugat begitu bersemangat hari itu. Mereka benar-benar menggugat para tikus-tikus berdasi peraup uang rakyat. Santer terdengar riakan kata “hidup” dan “merdeka” dari sebagian peserta diskusi GEPAK (Gerakan Pemuda Anti Korupsi) yang berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat pada Jumat,(19/06). Acara yang dihadiri oleh para [...]

Continue Reading

News, dalam kampus

Apresiasi PASUMA

Teks Oleh : Randy Aprialdi.S Foto Oleh : Taufik iqbal Apresiasi paduan suara mahasiswa Unisba (Pasuma) di Aula utama Unisba jumat (19/06). Event persembahan anggota angkatan 2008 ini berlangsung mulai pukul 13.00 sampai menjelang magrib. Acara yang dimeriahkan oleh para anggota, band bintang tamu, maupun band audisi. Memang acara yang bertajuk Seni Dan Apresiasi Pasuma di dominasi oleh [...]

Continue Reading

RECENT VIDEOS

Click below to view videos...

Berita Foto

Posted on 17 June 2009

Kematian Sebuah Politik

Kematian Sebuah Politik

Begitu dingin dan hening hari itu, seakan mengingatakan bahwa esok kematian menunggu dirumah. Jeruji Kematian (Kematian Sebuah Politik), satu karya teater hasil garapan mereka yang menamakan dirinya Tiga Anjing Kota. Pementasan yang berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di STUBA dan PSIK-ITB ini, mencoba mengangkat pesan ; biarkan kehidupan hidup pada kehidupannya.

Comments (0)

Featured

Palaguna, dari Tempat Belanja sampai Prostitusi Terselubung

Posted on 26 May 2009

palagunaTeks oleh :

Arfian Jamul Jawaami

Foto oleh :

Kirizki Setiana

Enam tahun sudah, sejak Gedung Palaguna Nusantara mendominasi pasar perbelanjaan di kota Bandung. Berdiri sejak tahun 1984, gedung yang bertempat di jantung kota Bandung tersebut, mengalami banyak persoalan rumit mengenai kepemilikan dan status gedung. Dimana merupakan dasar dari mati fungsinya peranan Palaguna sebagai pusat perbelanjaan aktif.

Periode 1984 sampai 2003, Palaguna merupakan salah satu pusat perbelanjaan utama di kota Bandung. Namun tidak begitu dengan sekarang, dimana terlihat gambaran kosong, hening dan tertutup. Hal tersebut diamini oleh Bambang, pemilik toko kaset Evika Musik. “Dulu waktu masih kuliah, saya sering nongkrong disini bareng temen atau keluarga, tapi sekarang keadaanya perihatin”, tuturnya. Hal serupa diungkapkan Sari, mahasisiwi Public Relations Universitas Padjajaran “waktu masih kecil saya suka ke Palaguna, tapi sekarang Palaguna sudah enggak jadi primadona lagi.”

Wacana yang merebak di kalangan pedagang pengisi kios di Palaguna adalah, adanya kasus penyelewengan kepemilikan oleh PT. Tirta Raja Jaya dan Perusahaan Daerah Kerta Wisata tanpa kesepakatan dari pemilik utama yang pada saat itu berada di luar negeri. Kedua perusahaan tersebut berjanji akan merombak total gedung Palaguna, namun pada kenyataannya perombakan hanya sebatas penghancuran gedung bukan perenovasian.

Bahkan penyelewengan merambah sampai pada perampasan berangkal dan toko-toko yang sudah ditinggalkan pemiliknya, yang berkisar sekitar 5 milyar rupiah. “Pedagang jadi serba salah, kalau nungguin toko enggak laku-laku, cuman kalau ninggalin toko takut berangkalnya dirampas. Sedangkan saya masih punya ikatan kontrak sampai 2014,” Keluh Vani, pedagang pengisi gedung Palaguna. Hal tersebut merupakan dasar dari permasalahan panjang kasus Palaguna yang menjadikannya sepi pengunjung. “Dulu dalam sehari saya bisa dapet omset sampai 4 jutaan, tapi sekarang 1 juta juga sudah untung,” ungkap Bambang.

Persoalan lain datang ketika premanisme masuk ke areal dalam gedung. Pencetusan daerah kekuasaan tanpa hukum dimanfaatkan oleh preman-preman sekitar. Dari tempat tinggal para tuna wisma sampai pada penyelewengan obat-obat terlarang. Bahkan merembak sampai ke ranah prostitusi. “Sekarang Palaguna suka dijadiin transaksi perempuan,” tutur Bambang dengan berbisik.

Begitu banyak penyelewengan yang terjadi di gedung Palaguna, dari kepemilikan sampai keasusilaan. Korbannya adalah para pedagang kecil dan warga sekitar. Mungkinkah ini adalah awal kematian Palaguna Nusantara?

Comments (0)

Luar Kampus

Selamatkan Gedung Rumentang Siang

Posted on 25 May 2009

rumentang siang

Teks :Vitri Afry

Foto :Dea Dwi Putri

Sabtu 23 Mei 2009. Oz radio Bandung menyelenggarakan event yang bertema “LA Light Ozboxshow Save Our Rumentang Siang”. Sebuah perhelatan kesenian yang bertujuan untuk ‘menyelamatkan’ Gedung Rumentang Siang. Saat ini gedung yang sudah berumur 34 tahun tersebut sudah tidak diberi suplai dana oleh pemerintah.

Event yang digelar di Gedung Kesenian Rumentang Siang ini berlangsung dari pukul 14.00 s/d 23.00. Acara ini dimeriahkan oleh band-band seperti; The Upstairs, White shoes and Couples Company, Endah n Rhesa, Sore, Pure Saturday, The Milo, Vincent vega, Cascade, Angsa dan Serigala, Cuts, Full of hate yang dipadukan dengan grup orkesrta.

Hasil dari acara ini akan diberikan sepenuhnya kepada pengelola Gedung Kesenian Rumentang Siang. ”Kami berinisiatif untuk memberikan sedikit kontribusi dan motivasi untuk memperbaiki kondisi gedung ini, dan dana yang kami dapatkan 100% akan diberikan untuk gedung ini,” Ujar Decil salah satu panitia penyelenggara yang kebetulan juga merupakan salah satu penyiar Oz radio. Decil juga menambahkan bahwa tidak ada kendala sedikitpun untuk menggelar event ini, karena acara ini sangat simple dan hanya membutuhkan 2 s/d 3 bulan untuk mempersiapkannya.

Dari penampilan band-band yang mengisi acara ini, yang terlihat sangat mencolok adalah penampilan Endah n Rhesa karena mungkin band ini yang paling mellow. Hanya dengan 2 personil, mereka mampu membius para penonton. Salah satu lagu yang mereka bawakan berjudul “I Don’t Remember” yang menceritakan tentang seseorang yang sedang mencari jati diri yang lupa akan dirinya dan lupa dimana dia berada sekarang.

Event ini cukup menyita banyak perhatian para penikmat musik, salah satunya Ramzi Mahasiswa Universitas Widyatama. Menurutnya “Acaranya sangat bagus karena banyak band-band indie yang mengisi dan bisa memanfaatkan fasilitas yang ada”. Terkait dengan Gedung Rumentang ini, Ramzi juga berpendapat bahwa gedung ini harus diselamatkan.

Selain itu para personil White shoes and Couples Company yaitu Sari, Nela, Riki, Jon, Ale dan Rio yang kebetulan baru pertama kali tampil di Gedung ini memberikan sedikit pesan dan kesan tentang acara ini, menurut mereka Ternyata anak-anak Bandung sangat apresiatif, mereka juga senang bisa menjadi bagian dari sejarah Gedung ini dan seharusnya acara seperti ini harus sering diadakan

Comments (0)

Opini

Mahasiswa dan Pers

Posted on 25 May 2009

Oleh: Samsul Hilal*( Memasuki gerbang Unisba, menjadi mahasiswa baru di sana, muncul rasa haru yang menggores kalbuku. Kini aku menjadi mahasiswa, sebuah sebutan yang terasa begitu agung dan heroik. Dan di sini aku terkesan pada penerbitan kampus: Suara Mahasiswa. Mahasiswa adalah sebuah komunitas intelektual. Ciri utama seorang intelektual adalah kapasitasnya untuk berpikir merdeka. Ia selalu mempertanyakan segala sesuatu. Realitas tidak diterima sebagai apa adanya, tapi juga dipersoalkan bagaimana seharusnya. Mahasiswa selayaknya menjadi generasi yang selalu bertanya tentang kehidupan.Maka kehadiran sebuah penerbitan menjadi suatu keniscayaan. Sebab di sanalah ide-ide diasah, sikap kritis digugah, setiap hasil pemikiran diuji dan didiskusikan.

Sebuah penerbitan tidak hanya segepok kertas, tapi juga segudang makna. “Sebuah tempat dan sekaligus proses belajar. Sebuah lingkungan sahabat dan teman sejawat. Sebuah arena berargumentasi dan berbeda pendapat. Sebuah simpul kehidupan artistik dan intelektual, tempat menggeladi pemikiran terbuka,” ungkap Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir.

Tak heran bila kualitas sebuah komunitas dapat dilihat dari kualitas penerbitannya. Dan menjadi cukup aneh bila dalam sebuah universitas tidak terdapat sebuah penerbitan. Timbul pertanyaan mengusik: apakah di sana tidak terdapat aktivitas intelektual? Apakah yang terjadi hanya rutinitas kuliah, tanpa kepedulian pada realitas kehidupan? Sudah lama terdengar bisik-bisik tentang kemerosotan mahasiswa. Konon mahasiswa sudah mengalami degradasi makna dari sosok intelektual muda yang substansial menjadi sekedar sebuah predikat. Konon, kebanyakan mahasiswa hanya berorientasi materi dan profesi tanpa landasan filosofi hidup. Kuliah tidak dianggap proses menggembleng diri menjadi manusia yang tangguh dan dewasa secara intelektual dan emosional. Kuliah hanyalah sekedar upaya mengejar selembar ijazah dan sebutan gelar. Sikap kritis memudar. Yang mencuat justru keinginan mengejar kemewahan tanpa peduli pada semangat pengabdian. Keadaan ini tentu berbeda dengan mahasiswa pada zaman penjajahan. Iklim penjajahan telah mempercepat proses pendewasaan diri mereka. Tanggung jawab besar atas nasib bangsa yang terjajah membuat anak-anak usia muda itu sudah berpikir bagaimana memerdekakan dan membangun bangsa. Hatta di Belanda, Soekarno di Bandung. Syahrir pun mendirikan PNI saat baru berusia 19 tahun. Luar biasa. Agak aneh memang, justru penjajahan melahirkan orang-orang besar. Pemimpin-pemimpin justru lahir dari desakan kesulitan dan tekanan, bukan dari kemudahan dan kemewahan. Kesulitan dan tantangan itulah yang menggembleng anak-anak muda itu tumbuh menjadi orang yang berkualitas. Mungkin benar kata Henry Ward Becker. Kesukaran dan tantangan yang kita hadapi dalam hidup, katanya, dapat dijadikan batu loncatan menuju watak yang agung. Kesukaran sering menjadi alat yang dipakai oleh Tuhan untuk membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik. Zaman pun berlalu. Zaman pergerakan kebangsaan yang memunculkan generasi berkualitas itu lewatlah sudah. Tantangan dan kesulitan zaman kini tak kalah beratnya ketimbang zaman pergerakan. Kemiskinan yang melilit lebih dari seratus juta rakyat adalah tantangan yang harus segara dijawab. Kesenjangan sosial yang menganga lebar adalah tugas yang harus segera dirampungkan. Terwujudnya kehidupan yang sejahtera dan berkeadilan adalah amanah Tuhan yang harus ditunaikan. Generasi apakah yang akan menyongsong abad besar ini? Masihkah tersisa sosok mahasiswa semacam Hatta, yang bertekad dengan sebuah sajak, seperti yang Hatta pekikkan seratus tahun silam, saat menjadi mahasiswa di Belanda? Hanya satu tanah yang dapat disebut tanah airkuIa besar karena amal, dan amal itu adalah amalku. Bagaimana kiranya bila Bung Hatta melihat generasi baru sekarang ini? Mungkin beliau akan menangis, Dan seperti zaman pergerakan kebangsaan dulu, beliau akan kembali bersenandung dengan getir: Sebuah abad besar telah lahirSayang, ia menemukan generasi kerdil. Mudah-mudahan kita bukanlah generasi kerdil itu. Abad besar ini membutuhkan generasi berkualitas. Apalagi globalisasi sudah melanda dunia. Ekonomi Indonesia juga ambruk karena gejolak moneter, salah satu efek globalisasi. Tantangan ini menuntut lahirnya pemimpin-pemimpin yang berwawasan dan berkualitas Internasional. Dari manakah pemimpin-pemimpin semacam ini akan lahir? Aku masih percaya bahwa universitas adalah lahan persemaian para pemimpin itu. Mahasiswa adalah calon-calon pemimpin yang akan tampil setelah mereka lulus. Oleh karena itu, dalam masa kuliah, sudah selayaknya mereka belajar sunggguh-sungguh untuk mempersiapkan diri menghadapi tugas-tugas besar yang menanti. Tidak hanya belajar teori dan buku-buku, tapi juga belajar untuk peduli dan ikut prihatin terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Belajar untuk menatap kehidupan dengan sikap kritis dan cerdas. Ini semua membutuhkan iklim kemahasiswaan yang kondusif. Rektorat tidak selayaknya bersikap represif, sebab sikap itu akan membunuh putra-putri terbaik mereka sendiri. Kreatifitas tidak boleh dipasung, bahkan harus dirangsang dan dipupuk untuk terus tumbuh. Diskusi-diskusi harus digalakan untuk merangsang kepekaan para mahasiswa dalam menangkap adanya masalah-masalah di masyarakat. Juga untuk melatih mereka dalam merumuskan secara cerdas solusi dari masalah-masalah itu. Dari semua itu, barulah bisa diharapkan munculnya generasi yang berkualitas. Aku berharap hadirnya penerbitan ini ikut berperan dalam memunculkan generasi berkualitas itu. Mudah-mudahan ini bisa merangsang tumbuhnya kreatifitas. Sebuah penerbitan adalah media untuk menyampaikan pemikiran. Jika benar, ia telah menunjukan sebagian realitas. Jika salah, ia akan merangsang lahirnya pemikiran baru yang lebih benar. Baik ketika benar, bahkan ketika salah, meyampaikan pemikiran selalu lebih baik daripada diam sama sekali. *) Penulis adalah Mahasiswa Teknik Universitas Islam Bandung.

Comments (0)

Uncategorized

Hello world!

Posted on 25 May 2009

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Comments (0)

Featured

Menyoal Pengangguran Adalah Menyoal Sistem Pendidikan

Posted on 18 April 2008

1.jpg

“Kompetensi tenaga kerja telah dijadikan sebagai acuan utama dalam pengembangan dan rekruitmen tenaga kerja.” (Drs. Sukanto Kanen, Kepala Disnakertrans Jabar)

Comments (0)

SEE MORE ARTICLES IN THE ARCHIVE